Sudah menjadi kegiatan rutinku, setiap akhir pekan, tepatnya jum’at malam (malam sabtu) aku meninggalkan kota jakarta menuju kota kecil sumedang dimana istri dan anak-anakku menetap. Begitu pula pada malam sabtu pekan yang lalu tepatnya hari jumat tanggal 23 pebruari 2007, seperti biasanya aku “ngapeli” mantan pacar + cucu2nya mertua di sumedang. Pada waktu itu jam di kantorku menunjukkan pukul 20:30, aku menyiapkan barang2 yg mau dibawa. Ternyata rekan kerjaku M’Roy juga lagi siap2 mo “ngantor” ke bogor, dan dia menawarkan tumpangan sampai ke tempat yang dilalui bus antar kota tujuan Bandung, Garut, Tasik dan sekitarnya. Tanpa basa basi aku ambil kesempatan itu (lumayan ngirit ongkos…fikirku).
Sekira pukul 21-an, aku baru mendapatkan bus Do’a Ibu jurusan Jakarta-Tasikmalaya via Tol Cipularan. Perjalanan Jakarta-Cileunyi ditempuh dalam waktu lebih kurang 2 Jam-an. Jadi kira-kira pukul 23 an aku baru tiba di Cileunyi. Yang selanjutnya di Cileunyi menunggu lagi bus antar kota baik dari Bandung maupun dari Jakarta yang melalui dan atau menuju kota sumedang. Perjalanan ditempuh sekira 0.5 – 1 jam perjalanan baru sampai di kota sumedang. Lebih kurang pukul 02:00 pagi baru tiba di kota sumedang. Udara pagi itu lumayan dingin terasa menusuk di sumsumku. Sambil merapatkan rensleting jaket, di pertigaan Jl. Mayor Abdurrahman-Jl. Anggrek aku menunggu angkutan kota jurusan ke rumahku. Sebenarnya di tempat itu ada ojeg yang mangkal, dan merekapun menawarkan untuk mengantarku pulang. Namun aku bilang mau nunggu angkot sebab udara sangat dingin. Dan mereka memahami.
Waktu terus berlalu sekitar 0,5 Jam aku termangu menunggu angkot, tiba2 dari arah Jl. Mayor abdurahman muncul pengendara motor Yamaha Vega dan menghampiriku sambil menawarkan jasa mengantarku pulang. Dan aku pun bilang bahwa aku lagi nunggu angkot. Namun rupanya dia berusaha untuk merayuku supaya mau naik ojeg. Dengan nada yang semakin meninggi dia memaksaku untuk naik ojeg dengan mengatakan bahwa angkot tidak akan mau bawa penumpang di malam hari, sebab ini adalah jadwal ojeg, katanya. “Ngga apa2 kang, saya sudah biasa ko, pulang jam segini naik angkot,” kilahku. Lama kelamaan dia bicara2 sambil mendekat kearahku. Tanpa kusadari, kok pipi sebelah kiriku terasa sakit seperti dihantam benda keras. Sesaat kemudian aku baru sadar, rupanya orang tsb menamparku. Duh bukan main kagetnya aku. Jiwaku berontak, bergejolak untuk emosi. Namun ada sisi lain dalam diriku yang mengatakan untuk bersabar. Akhirnya tak terasa mulutku berujar, istigfar… baru saja hilang keterkejutanku dengan apa yang terjadi tiba2 aku makin tambah terkejut ketika aku mengucapkan istigfar, dia mengatakan dan menghardik “Jangan bawa-bawa agama”. Sesaat kemudian aku mulai menyadari bahwa orang yang ada dihadapanku lagi mabuk alkohol, sebab dari mulutnya tercium aroma “bau naga”. Akhirnya aku berusaha menenangkan diri dan menenangkan orang itu. Orang orang yang ada disekitar tempat kejadian, semuanya diam tanpa ada reaksi apa pun melihat peristiwa itu. Kuberanikan untuk mengelus dadanya untuk menenangkannya (sekalian menghitung jarak jangkauan pukulan, he…he..) sambil berucap “sabar kang, tolong kalau menyelesaikan permasalahan jangan mengandalkan emosi, dan seandainya saya ada kesalahan atau pun menyinggung perasaan saya minta maaf ya”. Namun dia malah memaki saya sambil menjauh. orang orang disekitar tempat itu menyuruh saya supaya menjauh dari tempat tersebut dan mengatakan bahwa dia lagi mabok. Saya pun jalan kaki meninggalkan tempat itu lebih kurang 100 meter untuk melanjutkan kegiatan menunggu angkot yang sempat terganggu tadi. Tidak berapa lama kemudian ada tukang ojeg dan tukang becak yang menyaksikan peristiwa tadi menghampiriku dan menghiburku. Sambil cerita cerita saya korek informasi dari mereka, tentang siapa orang tadi dan dimana rumahnya. setelah terasa cukup info yang didapat akhirnya akupun melanjutkan perjalanan untuk menjenguk cucu mertua. Sesampainya di rumah jam telah menunjukan pukul 03.15.
Kesokan harinya sekira pukul 05:30 aku balik ke tempat kejadian sambil mencari-cari sesuatu, namun tidak kutemukan, akhirnya aku datangi kantor polisi sektor Sumedang utara untuk melaporkan kejadian semalam. Saat itu juga reserse membuatkan BAP, dengan delik aduan pasal 352 tentang penganiayaan ringan. Namun sampai saat ini belum ada kabar apapun dari pihak kepolisian. Mudah2an aja mereka serius menangani kasus ini.
Dengan terjadinya peristiwa ini semakin menguatkan tekad saya bahwa sistem kehidupan kapitalis sekuler tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan kehidupan dan harus adanya sebuah perubahan yang menyeluruh tentang sistem kehidupan dari sistem kehidupan yang kacau balau menuju kehidupan yang aman sentausa. Dan perubahan itu harus diperjuangkan.
Rabu, 9 Juli, 2008 at 1:31 am
Euleuhhhhh hawatos digebuk preman kang, gebuk deui padahal mah tuman kang. Hehehehehehe
Rabu, 9 Juli, 2008 at 1:50 am
He..he…
) jadi ingat Thifan euy… Mudah2an saja ga ada lagi…
Ke lah mun aya deui urang di tes “po khan”-na(tinju bangsawan)…